Wednesday, May 16, 2007

Persiapkan diri anda untuk tidak menjadi budak.

Lagi, Indonesia protes Malaysia soal kata "Indon".

http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/05/tgl/16/time/102515/idnews/781447/idkanal/10

Membaca berita tadi saya jadi teringat pengalaman saya tinggal di Malaysia 2.5 tahun yang lalu. Memang orang Malaysia selalu bilang warga negara Indonesia, dengan di singkat "Indon", satu kata yang mengkonotasikan atau melecehkan harga diri sebagai orang Indonesia. Di awal-awal teman dari Malaysia suka bilang seperti ini " Hei, bila you balik cuti kat Indon ni, pekan depan tuh ong week end", atau "Hei macam mana Hari Raya kat Indon, ramai tak ?".

Cukup gerah juga kalau saya mendengarkan kata ini, dan tiap kali saya berbincang dengan kawan bila mereka menggunakan kata Indon, saya langsung koreksi Indonesia, beberapa kali selalu saya meng-koreksi dan teman-teman tadi pun bilang , ah sorry "Indonesia", dengan sedikit muka merah karen malu. Pernah satu kali di imgirasi KLIA, pada saat saya baru pulang dari Brunei Darussalam, terlihat banyak sekali antrian di imigrasi Airport, karena memang itu musim liburan, karena memang waktu itu saya habis selesai meeting dan on business trip, saya berpakain cukup rapi, sebelum di pintu imgirasi saya mengeluarkan pasport hijau dan berdiri antri di gate khusus expatriate, di depan saya dua orang "Masale" (orang putih ) yang sedang antri, melihat saya menggunakan passport warna hijau, ada seorang petugas menghampiri saya.

"Cik, you Indon kah, antri kat sana", sambil menunjuk arah antrian yang panjang untuk orang umum. Aku sempet panas kuping di bilang seperti itu, rasanya harga diri sudah di injak-injak tidak karuan, kemudian aku jawab, "Yes, I am Indonesian, why should I go to the others gate ?", dengan sedikit nada yang tinggi, Officer tadi tetap ngotot, "You bisa baca tak ?, this gate only for expatriate !", katanya lagi. Rasanya mau aku tonjok aja nich orang. Padahal aku sudah berkali-kali keluar masuk lewat gate ini ngga ada masalah, cuman baru kali ini aja di perlakukan seperti itu, Terus aku keluarkan dompet dan aku tunjukan Expatriate"Gold card" license yang di keluarkan kerajaan Malaysia, dan masih dengan bahasa Inggris "Sir, yes, I am Indonesia and I am Expatriate, I have right to go in this gate, Look this is the card is proven, and this is not the first time I took this gate.", si officer tanpa melihat detail langsung ngeloyor dan pergi dan bilang "ah.. OK your right". Rasain loe, emang kamu pikir orang Indonesia cuman bisa jadi Pembantu.

Saya sependapat dengan perwakilan LKB Antara di Kuala Lumpur yang menyatakan pemberitaan media di Malaysia terhadap Indonesia memang berat sebelah, kemudia juga media di sana selalu membuat kata Indonesia di singkat dengan Indon, tapi pengamat media disana menolak kalau hanya Indonesia saja yang di diskriditkan, mereka juga bilang ada negara lain yang di singkat misalnya bangladesh disingkat bangla.

Tapi seingat saya, tidak pernah tuh melihat atau mendengar media Malaysia menyingkat negara Singapore dengan kata Singa, atau Perancis dengan Pera /P'cis, Amerika dengan Amerik, Canada dengan Cana, Italy dengan Ital etc. Jadi saya sangat mendukung kalau media dan pejabat pemerintah secara resmi lewat KBRI di Kuala Lumpur menulis surat Diplomatik, karena memang kita bukan negara Indon, tapi Indonesia. Dan kesalahan media disana yang selama ini terjadi ya harus segera di rubah, Sebagai negara bertetangga dan berdaulat hendaknya marilah saling menghormati dan menghargai, dan jangan lah selalu merendahkan negara yang memang sedang sakit. Karena kalau bukan karena peran besar dari tenaga kerja dari Indonesia, saya seratus persen yakin sektor informal di Malaysia pasti akan lumpuh.

Kalau negara anda memang hebat, tunjukan dengan cara yang sopan dan intelektual yang tinggi kalau negara anda memang cerdas dan lebih ber-etika, berbudaya dan maju, tunjukan, bukan dengan menghina dan merendahkan, karena pada akhirnya itu menunjukan kalau anda ngga ada bedanya dengan bangsa kami yang lagi sakit.

Sekedar saran, marilah belajar dari Philippine, kalau memang mau bekerja di Luar negeri, seharusnya memang anda menyiapkan kemampuan moral, mental dan expertise lainnya. Bukan cuma sekedar pergi tanpa bekal apapun, hanya karena ngiri, karena ada tetangga kerja di luar negri, terus ikut-ikutan dan akhirnya banyak sekali yang hanya di perlakukan sebagai budak dan di siksa, Belajarlah bahwa, kerja di luar negri adalah pekerjaan yang sangat luar biasa kerasnya dan belum tentu merupakan pilihan yang tepat tanpa persiapan yang matang. Seharusnya anggota DPR yang terhormat lebih banyak studi banding ke Philipine dari pada ke Perancis, karena di sini hanya ada Champ Elysse, Eiffel Tower dan Luis Vitton, tapi di sini tidak ada tempat, atau lembaga yang mempersiapkan TKI, kalau di Philipine itu tempat yang tepat untuk Studi banding. Dan Kalau memang kita semua bekerja bahu membahu, akhirnya Kementrian Luar Negri bisa berdiplomasi dengan gentlement ngga seperti nenek cerewet yang suka complaint dan tidak di tanggapi. Karena yang saya amati, kita bisa complaint tapi kalau kita flash back kebelakang memang kita masih banyak kurang siap nya di banding kesiapan kita.

Salut saya untuk Mbak-Mbak dan Mas-mas yang saya temui di Singapore, Kuala Lumpur, Hong Kong, Abu Dhabi, Dubai, Perancis, US, Canada, dan di tempat lainnya , Anda semua merupakan Emas dan Berlian bagi cadangan devisa bangsa Indonesia dan penggerak perekonomian di tempat anda bekerja.

5 comments:

  1. Meskipun saya warga M'sia, lahir dan besar di M'sia saya setuju dengan tulisan anda. Sebutan "indon" sepertinya berbau negatif ya?? Mohon maaf dr saya ya mewakili semua..

    Salam kenal..

    ReplyDelete
  2. Halo salam kenal juga, Terimakasih sudi mampir ke laman web saya.Saya pun banyak sekali kawan kat malaysia dan kami tidak ada masalah, Hanya memang media kadang tidak lah proporsional, marilah sebagai negara yang bertetangga dan serumpun kita saling menghargai dan menghormati. Karena kita memang saling membutuhkan satu dengan yang lain.

    ReplyDelete
  3. wah komen gua tadi kok ilang hik hik hik :(

    ReplyDelete
  4. eh boss mac, comment yang mana ?, emang blogspot rada rese sekrang dengan comment yang kadang hidup kadang mati

    ReplyDelete
  5. (coba bikin komen lagi). Ya itulah dulu pernah punya pengalaman tugas ke Malaysia tahun 1998. Gimana ga jutex, lah petugas di airportnya bilang "Pakcik ini ada bawa rendang kah kat tas nya" buset lu kate gua apaan sampe segitunya. Lah lagian kenapa musti Malay sama Singapore beda banget perlakuannya terhadap turis Indonesia.

    Ny.Satya, cube sikit kasih pemahaman kat rekan-rekan tu di malay, bahwa tidak sedikit orang Indon (mau Indon mau Indonesia) yang lebih best daripada budak-budak kat Malay tu. Lah kita serumpun gitu loh. Aper lah awak ni, macam tak pernah kena lempar seluar (kolor) Leopard ke?

    I harap budak-budak Malay tak lagi tinggi hati. Sebab pasal tu hanya akan merosak moral dan kemajuan yang dicanangkan Dr. Sri Mahathir dan pemimpin-pemimpin bangsa Malaysia sendiri.

    Marilah kita bergandeng tangan menyongsong kemajuan bangsa yang lebih berarti lagi.

    *the next Indonesian Leader!

    ReplyDelete